Dzikir setelah sholat fardhu

Dzikir yang dibaca setelah sholat wajib, selepas salam.

1 Sekali

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ (٣)، اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Arti dan sumber

Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Apabila Rasulullah ﷺ telah bersalam dari salatnya, beliau beristigfar tiga kali lalu membaca, "Allāhumma antas-salām wa minkas-salām, tabārakta yā żal-jalāli wal-ikrām (Ya Allah, Engkaulah pemilik keselamatan, dari-Mu keselamatan, Mahamulia Engkau, wahai pemilik keagungan dan kebaikan)."

Al-Walīd mengisahkan: Aku bertanya kepada Al-Auzā'iy, "Bagaimana cara beristigfar?" Beliau menjawab, "Yaitu engkau membaca, 'Astagfirullāh, astagfirullāh.'"

HR. Muslim Derajat: Sahih

Penjelasan

Nabi ﷺ biasanya jika telah selesai dari salatnya membaca: astagfirullāh, astagfirullāh, astagfirullāh.

Kemudian beliau mengagungkan Tuhannya dengan membaca: Allāhumma antas-salām wa minkas-salām, tabārakta yā żal-jalāli wal-ikrām. Allah yang selamat lagi sempurna dalam sifat-sifat-Nya, yang disucikan dari segala cacat dan aib, kepada-Nya engkau meminta keselamatan dari keburukan dunia dan akhirat, bukan kepada yang lain. Allah ﷻ yang banyak kebaikan-Nya di dunia dan akhirat, yang memiliki keagungan dan kebaikan.

Faedah

  • 1- Anjuran membaca istigfar di akhir salat dan merutinkannya.
  • 2- Anjuran beristigfar untuk menutupi kekurangan dalam ibadah serta menyempurnakan ketaatan dan kekurangan yang terjadi di dalamnya.

Baca di HadeethEnc.com

2 Sekali

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Arti dan sumber

Warrād, sekretaris Al-Mugīrah bin Syu'bah, meriwayatkan, Al-Mugīrah bin Syu'bah mendiktekan kepadaku isi surat yang akan dikirim kepada Mu'āwiyah: Nabi ﷺ biasa membaca di akhir setiap salat fardu: Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr. Allāhumma lā māni'a limā a'ṭaita, wa lā mu'ṭiya limā mana'ta, wa lā yanfa'u żal-jaddi minkal-jaddu (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Semua kerajaan milik-Nya dan semua pujian hanya bagi-Nya. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah! Tidak ada yang mampu menghalangi apa yang Engkau beri dan tidak ada yang dapat memberi siapa yang Engkau halangi. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya untuk menghindar dari siksa-Mu).

Muttafaq 'alaih Derajat: Sahih

Penjelasan

Nabi ﷺ biasa membaca setelah setiap salat fardu: Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr. Allāhumma lā māni'a limā a'ṭaita, wa lā mu'ṭiya limā mana'ta, wa lā yanfa'u żal-jaddi minkal-jaddu.

Ia bermakna: Aku mengikrarkan dan menyatakan kalimat tauhid "lā ilāha illallāh". Ibadah yang benar, aku menetapkannya bagi Allah dan menafikannya dari selain-Nya. Tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah. Aku mengakui bahwa kerajaan hakiki yang sempurna adalah milik Allah dan semua pujian penduduk langit dan bumi adalah hak milik Allah Ta'ala karena Dia yang kuasa atas segala sesuatu dan semua yang ditetapkan oleh Allah berupa pemberian atau penahanan, tidak ada yang dapat menolaknya. Di sisi-Nya, kekayaan orang yang kaya tidak akan berguna baginya karena yang berguna baginya ialah amal saleh.

Faedah

  • 1- Anjuran membaca zikir ini setelah salat karena terdiri dari lafaz-lafaz tauhid dan pujian.
  • 2- Bersegera melaksanakan sunah dan menyebarkannya.

Baca di HadeethEnc.com

3 Sekali

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ‌وَلَا ‌نَعْبُدُ ‌إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Arti dan sumber

Abu Az-Zubair meriwayatkan, Ibnu Az-Zubair biasa mengucapkan di penghujung setiap salat ketika usai salam, "Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lahu, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh, lā ilāha illallāh, wa lā na'budu illā iyyāhu, lahun-ni'matu wa lahul-faḍlu, wa lahuṡ-ṡanā`ul-hasan, lā ilāha illallāhu mukhliṣīna lahud-dīn wa lau karihal-kāfirūn (Tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya seluruh kerajaan, kepunyaan-Nya semua pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali Dia. Bagi-Nya segala nikmat, milik-Nya seluruh karunia, dan kepunyaan-Nya pujian yang bagus. Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai)." Ia mengatakan, "Rasulullah ﷺ bertahlil dengan kalimat-kalimat ini di akhir setiap salat."

HR. Muslim Derajat: Sahih

Penjelasan

Rasulullah ﷺ biasa berzikir setelah salam di setiap salat fardu dengan zikir yang agung ini. Maknanya adalah:

"Lā ilāha illallāh"; artinya: tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah.

Wahdahu lā sharīka lahu (Dia semata, tidak ada sekutu bagi-Nya), yakni tidak ada sekutu bagi-Nya terkait uluhiah, rububiah serta nama dan sifat-sifat-Nya.

Lahu al-mulku (Milik-Nya seluruh kerajaan), yakni milik-Nya kerajaan yang mutlak, universal, dan tanpa batas, Dia yang memiliki langit dan bumi berikut semua yang ada di antara keduanya.

Wa lahu al-ḥamdu (Bagi-Nya seluruh pujian), yakni Dia yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang mutlak, yang terpuji dengan kesempurnaan, dengan penuh cinta dan pengagungan dalam segala keadaan, ketika lapang dan sulit.

Wa huwa ‘alā kulli shay’in qadīr (Dia Mahakuasa atas segala sesuatu), yaitu kemahakuasaan-Nya sempurna dari segala sisi, tidak ada sesuatu pun yang membuat-Nya lemah dan tidak ada satu urusan pun yang mustahil bagi-Nya.

Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh (Tiada upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah), yakni tidak ada kuasa untuk berpindah dari satu keadaan kepada keadaan lainnya, dari bermaksiat kepada Allah menuju ketaatan kepada-Nya, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Dialah Yang Maha Penolong dan hanya kepada-Nya tempat berserah diri.

Lā ilāha illallāh, wa-lā na‘budu illā iyāhu (Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali Dia). Ini merupakan penegasan terhadap makna uluhiah dan penafian kesyirikan, bahwa tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah selain Allah.

Lahu an-ni‘matu wa lahu al-faḍlu (Milik-Nya seluruh nikmat, bagi-Nya seluruh karunia), yaitu Dialah yang menciptakan dan memiliki semua nikmat, lalu Dia pula yang memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.

Wa lahu at-ṡanā`u al-ḥasan (Kepunyaan-Nya seluruh pujian yang bagus), yaitu terkait zat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya dan nikmat-nikmat-Nya dalam segala keadaan.

Lā ilāha illallāh mukhliṣīn lahu ad-dīn (Tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya), yakni menauhidkan Allah tanpa ada sifat ria dan sumah dalam ketaatan kepada-Nya.

Wa-law kariha al-kāfirūn (Meskipun orang-orang kafir tidak menyukai), yakni kami tetap kokoh menauhidkan Allah dan beribadah kepada-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai hal ini.

Faedah

  • 1- Anjuran merutinkan zikir ini setiap selesai salat wajib.
  • 2- Seorang muslim bangga dengan agamanya dan menampakkan syiar-syiarnya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai hal itu.
  • 3- Apabila disebutkan di dalam hadis kalimat "di akhir salat", jika yang disebutkan di dalam hadis itu berupa zikir maka biasanya maksudnya ialah setelah salam, tetapi jika berupa doa maka maksudnya ialah sebelum salam di dalam salat.

Baca di HadeethEnc.com

4 Sekali

سُبْحَانَ اللَّهِ (٣٣)، الْحَمْدُ لِلَّهِ (٣٣)، اللَّهُ أَكْبَرُ (٣٣)، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Arti dan sumber

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang bertasbih sebanyak 33 kali, bertahmid sebanyak 33 kali, dan bertakbir sebanyak 33 kali setelah selesai salat, semuanya berjumlah 99 kali, lalu menggenapkannya 100 dengan membaca: 'Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lahu, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr (artinya: Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan dan segala pujian hanya milik-Nya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu)', maka akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan."

HR. Muslim Derajat: Sahih

Penjelasan

Nabi ﷺ menerangkan bahwa orang yang membaca setelah selesai salat fardu:

1- Subḥānallāh (sebanyak 33 kali); yang berarti menyucikan Allah dari segala kekurangan.

2- Alḥamdulillāh (sebanyak 33 kali); yang berarti pujian kepada-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan disertai mencintai dan mengagungkan-Nya.

3- Allāhu akbar (sebanyak 33 kali); yang berarti Allah paling besar dan paling mulia dari segala sesuatu.

Lalu menyempurnakan jumlahnya menjadi 100 dengan membaca: Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr (Artinya: tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dia semata pemilik kerajaan yang sempurna, yang berhak terhadap pujian disertai cinta dan pengagungan, tidak ada selain-Nya, dan Dia Mahakuasa, tidak ada sesuatu pun yang mengalahkan-Nya).

Siapa yang membaca semua ini, niscaya akan dihapus dan diampuni kesalahan-kesalahannya, walaupun banyak seperti buih putih yang mengambang di atas laut ketika bergelombang dan berombak.

Faedah

  • 1- Anjuran membaca zikir ini setelah salat-salat fardu.
  • 2- Zikir ini adalah sebab pengampunan dosa.
  • 3- Besarnya karunia, rahmat dan ampunan Allah Ta'ala.
  • 4- Zikir ini adalah sebab pengampunan dosa-dosa kecil, adapun dosa besar, ia tidak dapat digugurkan kecuali oleh tobat.

Baca di HadeethEnc.com

5 Sekali

Arti dan sumber

Ka'ab bin 'Ujrah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada beberapa zikir pengiring, tidak akan rugi orang yang mengucapkannya -atau melakukannya- di akhir setiap salat wajib, yaitu 33 kali tasbih, 33 kali tahmid, dan 34 kali takbir."

HR. Muslim Derajat: Sahih

Penjelasan

Nabi ﷺ meriwayatkan tentang zikir-zikir yang tidak akan rugi maupun menyesal orang yang mengucapkannya, bahkan ia akan mendapatkan pahala kalimat-kalimat tersebut, dibaca secara berurutan, serta dilakukan setelah salat fardu, yaitu:

Subḥānallāh sebanyak 33 kali, yakni menyucikan Allah dari segala kekurangan.

Alḥamdulillāh (33 kali), yakni menetapkan kesempurnaan yang paripurna bagi Allah disertai rasa cinta dan pengagungan kepada-Nya.

Allāhu akbar (34 kali), yakni Allah Zat yang paling besar, paling agung dan paling mulia dari segala sesuatu.

Faedah

  • Keutamaan bertasbih, bertahmid, dan bertakbir, ia merupakan amal saleh yang pahalanya kekal.

Baca di HadeethEnc.com

6 Sekali

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Arti dan sumber

Abu Umāmah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang membaca ayat Kursi di penghujung setiap salat wajib, maka tak ada penghalang antara dirinya dan masuk surga selain kematian."

HR. Nasai dalam Al-Kubrā Derajat: Sahih

Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang membaca ayat Kursi setelah selesai salat fardu, tidak ada yang menghalanginya untuk masuk surga kecuali kematian. Ayat Kursi adalah ayat yang terdapat pada surah Al-Baqarah, yaitu firman Allah Ta'ala, {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ}

Artinya: "Allah, tidak ada sembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS. Al-Baqarah: 255)

Faedah

  • 1- Keutamaan ayat yang agung ini karena berisi nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.
  • 2- Anjuran membaca ayat yang agung ini setiap selesai salat fardu.
  • 3- Amal saleh penyebab masuk surga.

Baca di HadeethEnc.com

7 Sekali

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Arti dan sumber

Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ mengambil tangannya lalu bersabda, "Wahai Mu'āż, demi Allah, sungguh aku mencintaimu." Beliau melanjutkan, "Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu'āż! Jangan sekali-kali engkau tinggalkan di akhir setiap salat untuk membaca: 'Allāhumma a'innī 'alā żikrika wa syukrika wa ḥusni 'ibādatika (Ya Allah, bantulah aku untuk berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah kepada-Mu dengan benar).'"

HR. Abu Daud, Nasai, dan Ahmad Derajat: Sahih

Penjelasan

Nabi ﷺ mengambil tangan Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu- dan berkata: Demi Allah! Sungguh, aku mencintaimu. Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu'āż, jangan sekali-kali meninggalkan di akhir setiap salat untuk membaca: Allāhumma a'innī 'alā żikrika (Ya Allah, bantulah aku untuk berzikir kepada-Mu), yakni pada setiap perkataan dan perbuatan yang dapat mendekatkan pada ketaatan. ... wa syukrika (bersyukur kepada-Mu), yakni ketika memperoleh nikmat serta hilangnya keburukan. ... wa ḥusni 'ibādatika (serta beribadah kepada-Mu dengan benar), yakni dengan ikhlas kepada Allah dan mengikuti Nabi ﷺ.

Faedah

  • 1- Anjuran mengabari seseorang terkait cintanya kepada orang tersebut karena Allah.
  • 2- Anjuran membaca doa ini di setiap akhir salat fardu dan sunah.
  • 3- Di dalam doa yang menggunakan kalimat-kalimat ringkas ini terdapat berbagai permintaan dunia dan akhirat.
  • 4- Di antara faedah cinta karena Allah ialah adanya sikap saling berpesan dan menasihati dalam kebenaran serta bekerja sama pada kebaikan dan ketakwaan.
  • 5- Aṭ-Ṭībiy berkata, "Berzikir kepada Allah adalah pembuka ketenangan hati, bersyukur kepada-Nya adalah wasilah kenikmatan yang dikabulkan, dan beribadah dengan baik yang diinginkan ialah berlepas diri dari semua yang akan memalingkan diri dari Allah Ta'ala."

Baca di HadeethEnc.com

Pertanyaan

Apa isi halaman ini?

Dzikir setelah sholat: masing-masing dalam bahasa Arab, dengan artinya, hadis sumbernya, derajatnya dan penjelasannya.

Dari mana terjemahannya?

Dari HadeethEnc.com, Ensiklopedia Hadis Nabi Terjemahan. Setiap hadis ditampilkan persis seperti yang mereka terbitkan, dengan sumber dan derajatnya, serta tautan ke aslinya.

Bisakah saya mendapat pengingat harian?

Bisa. Aplikasi Qabas gratis untuk Android mengingatkan Anda dzikir pagi dan petang setiap hari dan memiliki penghitung yang sama.