إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلۡ عَسَىٰٓ أَن يَهۡدِيَنِ رَبِّي لِأَقۡرَبَ مِنۡ هَٰذَا رَشَدٗا ٢٤
Illā an yasyā'allāhu wadzkur rabbaka idzā nasīta waqul 'asā an yahdiyani rabbī li aqraba min hādzā rasyadā
kecuali (dengan mengatakan), "Insyā Allah."492 Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini."
Catatan kaki
492 Menurut riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang roh, kisah Ashabul Kahfi (penghuni gua) dan kisah Zulkarnain lalu beliau menjawab, datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan kepadamu. Dan beliau tidak mengucapkan Insyā Allāh (artinya jika Allah menghendaki). Tapi rupanya sampai besok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan Nabi tak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi; Allah mengingatkan pula bilamana Nabi lupa menyebut Insyā Allāh haruslah segera menyebutkannya kemudian.
Tafsir
Kecuali jika dalam ucapanmu tersebut engkau menyerahkan pelaksanaannya pada kehendak Allah dengan mengatakan, "Saya akan mengerjakannya besok, insya Allah (bila Allah menghendaki)." Ingatlah kepada Tuhanmu dengan kata "insya Allah" bila engkau lupa mengatakannya, dan juga katakanlah, "Aku harap semoga Tuhanku memberiku petunjuk berupa hidayah dan taufik kepada yang lebih dekat dengan perkara (kebenaran) ini."