Doa ketika tertimpa musibah (Innalillahi)

Apa yang diucapkan ketika tertimpa kehilangan atau musibah, dan kata-kata penghibur bagi keluarga yang berduka.

1 Sekali

إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

Arti dan sumber

Ummul Mukminin Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan apa yang diperintahkan Allah: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn, allāhumma-`jurnī fī muṣībatī wa akhlif lī khairan minhā (Sesungguhnya kami milik Allah dan sungguh kepada-Nyalah kami akan kembali; ya Allah, berilah aku pahala pada musibahku dan berilah aku penggantinya yang lebih baik), kecuali Allah akan memberinya pengganti yang lebih baik." Ummu Salamah berkata, "Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku bertanya, 'Muslim mana yang lebih baik dari Abu Salamah?! Keluarganya adalah yang pertama kali berhijrah kepada Rasulullah ﷺ.' Tetapi kemudian aku tetap membacanya, maka Allah menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai ganti bagiku."

HR. Muslim Derajat: Sahih

Penjelasan

Ummul Mukminin Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- menyebutkan bahwa dia pernah suatu kali mendengar Nabi ﷺ bersabda: Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan zikir yang dianjurkan oleh Allah kepadanya: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn. Allāhumma-`jurnī (ya Allah, berilah aku pahala); berilah aku pahala sabarku .. fī muṣībatī (pada musibahku); berilah aku gantinya .. wa akhlif lī khairan minhā (berilah aku penggantinya yang lebih baik), kecuali Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Ummu Salamah bercerita: Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku berkata: Siapa di antara kaum muslimin yang lebih baik dari Abu Salamah? Keluarganya adalah yang pertama kali berhijrah kepada Rasulullah ﷺ. Sungguh, kemudian Allah membantuku sehingga aku mengucapkannya. Maka Allah memberiku pengganti, yaitu Rasulullah ﷺ, yang lebih baik dari Abu Salamah.

Faedah

  • 1- Perintah untuk bersabar ketika mendapat musibah dan tidak murka.
  • 2- Menengadahkan doa kepada Allah dalam musibah karena Allah memiliki penggantinya.
  • 3- Keharusan melaksanakan perintah Nabi ﷺ bagi seorang mukmin sekalipun tidak tampak hikmah perintah itu baginya.
  • 4- Seluruh kebaikan ada dalam pelaksanaan perintah Nabi ﷺ.

Baca di HadeethEnc.com

2 Sekali

إنَّ لِلَّه ما أَخَذ ولَهُ ما أَعطَى، وكلُّ شَيءٍ عِنده بِأجَل مُسمَّى فَلتَصبِر ولتَحتَسِب

Arti dan sumber

Dari Usāmah bin Zaid bin Hāriṡah -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Salah seorang puteri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mengutus seseorang untuk memberitahu kepada beliau, bahwa anaknya sedang sakaratul maut, maka dari itu beliau diminta untuk hadir. Beliau hanya mengirimkan seorang utusan untuk menyampaikan salam, seraya bersabda, "Sesungguhnya milik Allah-lah segala yang Dia ambil, dan kepunyaan-Nya pula segala yang Dia beri, dan segala sesuatu di sisi-Nya telah ditentukan, maka hendaklah dia bersabar dan mengharap pahala dari Allah." Kemudian puteri beliau mengirimkan berita kembali kepada beliau yang disertai sumpah agar beliau berkenan untuk hadir. Lantas beliau berangkat bersama Sa'ad bin 'Ubādah, Mu'āż bin Jabal, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Ṡābit, dan beberapa sahabat yang lain. Kemudian anak yang sakit itu diberikan kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan didudukkan di pangkuan beliau dalam keadaan nafasnya terengah-engah. Tiba-tiba air mata beliau menetes. Sa'ad bertanya, "Wahai Rasulullah, (air mata) apakah ini?" Beliau menjawab, "Tetesan air mata ini adalah rahmat yang dikaruniakan Allah -Ta'ālā- ke dalam hati para hamba-Nya." Dalam riwayat lain disebutkan, "Ke dalam hati hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang."

Muttafaq 'alaih Derajat: Hadis sahih

Penjelasan

Usāmah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan bahwa salah seorang puteri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus seseorang untuk mengabarkan bahwa puteranya sedang sekarat. Yakni sedang menghadapi kematian. Ia meminta beliau untuk hadir. Ketika sang utusan itu sudah menyampaikannya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Perintahkan dia (puterinya) untuk bersabar dan mengharap pahala (dari Allah). Sesungguhnya milik Allah-lah segala yang Dia ambil, dan kepunyaan-Nya pula segala yang Dia beri, dan segala sesuatu di sisi-Nya telah ditentukan." Nabi -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- memerintahkan kepada orang yang diutus oleh putrinya agar menyuruh putrinya itu -ibu anak kecil tersebut- dengan beberapa kata berikut: Beliau bersabda, "Hendaklah dia bersabar." Yakni, terhadap musibah ini. "Dan hendaklah dia mengharap pahala." Yakni, hendaknya dia mengharap pahala dari Allah atas kesabarannya. Sebab, ada orang yang bisa sabar tetapi tidak mengharap pahala dari Allah. Tetapi jika dia sabar dan mengharapkan pahala dari Allah. Yakni, beliau ingin dengan kesabarannya itu Allah akan memberinya balasan dan ganjaran. Inilah sikap mengharap pahala. Sabda beliau, "Sesungguhnya milik Allah-lah segala yang Dia ambil, dan kepunyaan-Nya pula segala yang Dia beri." Ini merupakan kalimat yang agung. Jika segala sesuatu itu milik Allah, maka jika Dia mengambil sesuatu darimu, maka sesuatu itu memang milik-Nya. Jika Dia memberimu sesuatu, itu adalah milik-Nya. Lantas kenapa engkau murka jika Dia mengambil darimu hal yang memang merupakan milik-Nya? Oleh sebab itu, disunahkan bagi seseorang apabila ditimpa musibah, hendaklah dia mengucapkan, "Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn (sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nya kita kembali)". Yakni, kita milik Allah, Dia melakukan apa saja kepada kita sesuai kehendak-Nya. Demikian pula apa yang kita cintai, jika Dia mengambilnya dari kita, maka itu adalah milik-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Menjadi hak Allah untuk mengambil dan memberi. Bahkan yang Dia berikan kepadamu, bukanlah menjadi milikmu, tetapi milik-Nya. Karena itu engkau tidak bisa menggunakan apa yang Dia berikan kepadamu kecuali sesuai dengan arah yang Dia bolehkan. Ini merupakan dalil bahwa milik kita yang diberikan oleh Allah adalah kepemilikan yang terbatas. Kita tidak bisa menggunakannya secara mutlak. Karena itu, beliau bersabda, "Menjadi hak Allah untuk mengambil dan memberi." Jika apa yang Allah ambil itu milik-Nya, kenapa kita gelisah (tidak sabar)? Bagaimana bisa kita marah kepada pemilik yang mengambil milik-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā-? Ini bertentangan dengan akal dan dalil naqli. Beliau bersabda, "Dan segala sesuatu telah ditentukan ajalnya di sisi-Nya." Segala sesuatu ada ketetapannya di sisi-Nya. Perkataan, "Bi ajalin musammā", artinya ajal tertentu. Jika engkau telah meyakini hal ini, yaitu bahwa menjadi hak Allah untuk mengambil dan memberi, dan segala sesuatunya telah ditentukan ajalnya di sisi-Nya, maka engkau akan merasa puas (kanaah). Ungkapan terakhir ini menunjukkan bahwa seseorang tidak mungkin mampu merubah ajal yang sudah ditentukan, baik disegerakan atau diakhirkan. Sebagaimana firman Allah -Ta'ālā-, "Bagi setiap umat ada ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun." Jika sesuatu telah ditetapkan takdirnya, tidak dapat dipercepat atau ditunda, maka tidak ada manfaatnya gelisah dan murka, karena walaupun engkau gusar (tidak sabar) dan murka, engkau tidak akan mampu merubah sesuatu pun yang sudah ditetapkan. Kemudian sang utusan tersebut memberitahu puteri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenai pesan beliau yang harus disampaikan kepadanya. Akan tetapi sang puteri kembali mengutusnya untuk memintanya agar datang. Maka berangkatlah beliau bersama sejumlah sahabatnya. Setibanya di sana beliau menggendong sang anak yang nafasnya terengah-engah naik turun. Seketika itu Rasulullah -'alaihiṣ salatu wa as-salam- menangis dan kedua matanya berlinang, sehingga Sa'ad mengira bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menangis karena resah. Nabi -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- bersabda, Ini adalah kasih sayang." Yakni, aku menangis karena sayang kepada anak ini bukan karena gelisah (tidak sabar) terhadap takdir. Selanjutnya beliau -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- bersabda, "Sesungguhnya Allah hanya mengasihi hamba-Nya yang pengasih." Hadis ini menjadi dalil dibolehkannya menangis karena mengasihi orang yang terkena musibah.

Baca di HadeethEnc.com

3 Sekali

Arti dan sumber

Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang menemui puteranya; Ibrahim -raḍiyallāhu 'anhu- saat dia sedang sekarat, maka kedua mata Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bercucuran air mata. Abdurrahman bin Auf berkata kepada beliau, "Dan engkau ya Rasulullah (juga menangis)?! Maka beliau bersabda, "Wahai Ibnu Auf, ini adalah sifat rahmat/sayang." Kemudian saya perhatikan ucapan berikutnya, "Sesungguhnya mata ini menangis dan hati merasa sedih dan tidak ada yang kami katakan selain yang membuat Tuhan kami rida. Sungguh berpisah denganmu wahai Ibrahim adalah kesedihan."

Muttafaq 'alaih Derajat: Hadis sahih

Penjelasan

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk menemui puteranya; Ibrahim -raḍiyallāhu 'anhu- saat dia mendekati ajalnya. Maka mengalirlah air mata Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Berkatalah Abdurrahman bin Auf, Apakah engkau juga wahai Rasulullah? Dia heran, sebab Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menganjurkan orang-orang untuk bersabar dan melarang meratap saat ditimpa musibah, namun beliau bersikap seperti sikap orang-orang itu (menangis). Maka beliau menjawab bahwa hal itu adalah bentuk kasih sayang yang engkau saksikan dariku, pertanda lembutnya hati terhadap anak. Kemudian dia lanjutkan sabda berikutnya, "Sungguh mata ini menangis dan sungguh kami merasa sedih dengan berpisah darimu wahai Ibrahim." Rasa kasih sayang tidak menafikan kesabaran dan iman terhadap takdir.

Baca di HadeethEnc.com

4 Sekali

Arti dan sumber

Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kuburan lalu beliau bersabda, "Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!" Wanita itu berkata, "Menyingkirlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak ditimpa musibah seperti musibah yang menimpaku." (Anas berkata), "Wanita itu tidak mengenal beliau. Lantas dikatakan kepadanya bahwa orang itu adalah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Wanita itu pun segera mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan tidak menemukan para penjaga pintu di sisinya. Ia pun berkata, "Aku tidak mengenalmu." Beliau bersabda, "Sesungguhnya kesabaran itu saat goncangan pertama."

Dalam riwayat lain disebutkan, "Dia menangis atas kematian bayinya."

Muttafaq 'alaih Derajat: Hadis sahih

Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kuburan bayinya yang meninggal dunia. Dia sangat mencintainya sehingga tidak mampu menahan diri untuk keluar menuju kuburnya dan menangis di sisinya. Ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melihatnya demikian, beliau menyuruhnya untuk bertakwa kepada Allah dan bersabar. Wanita itu berkata, "Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak ditimpa musibah seperti musibah yang menimpaku."

Selanjutnya dikatakan kepada wanita tersebut, "Sesungguhnya orang ini adalah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Ia pun menyesal dan mendatangi Rasulullah sampai ke pintunya, dan di depan pintu tidak ada para penjaga yang menghalangi orang-orang untuk menemui beliau. Lantas ia memberitahu beliau seraya berkata, "Sesungguhnya aku tidak mengenal anda." Setelah itu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahunya bahwa kesabaran yang mendatangkan pahala bagi manusia adalah sabar ketika musibah pertama kali menimpanya.

Baca di HadeethEnc.com

Pertanyaan

Apa isi halaman ini?

Doa saat tertimpa musibah: masing-masing dalam bahasa Arab, dengan artinya, hadis sumbernya, derajatnya dan penjelasannya.

Dari mana terjemahannya?

Dari HadeethEnc.com, Ensiklopedia Hadis Nabi Terjemahan. Setiap hadis ditampilkan persis seperti yang mereka terbitkan, dengan sumber dan derajatnya, serta tautan ke aslinya.

Bisakah saya mendapat pengingat harian?

Bisa. Aplikasi Qabas gratis untuk Android mengingatkan Anda dzikir pagi dan petang setiap hari dan memiliki penghitung yang sama.