أَوۡ كَصَيِّبٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فِيهِ ظُلُمَٰتٞ وَرَعۡدٞ وَبَرۡقٞ يَجۡعَلُونَ أَصَٰبِعَهُمۡ فِيٓ ءَاذَانِهِم مِّنَ ٱلصَّوَٰعِقِ حَذَرَ ٱلۡمَوۡتِۚ وَٱللَّهُ مُحِيطُۢ بِٱلۡكَٰفِرِينَ ١٩
Aw kasayyibim minas-samā'i fīhi zulumātun wara'dun wabarqun yaj'alūna asābi'ahum fī ādzānihim minas-sawā'iqi hadzaral-mawti wallāhu muhītu bil-kāfirīn
Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir.12
Catatan kaki
12 Pengetahuan dan kekuasaan Allah meliputi orang-orang kafir.
Tafsir
Adapun maksud perumpamaan dengan air ialah mereka seperti air hujan lebat dari awan yang gelap berlapis-lapis, guruh dan kilat. Hujan lebat itu turun kepada suatu kaum lalu mereka mengalami ketakutan yang luar biasa. Lalu mereka menutupi telinga dengan ujung-ujung jari karena kerasnya suara petir yang menyambar dan takut mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui dan Maha Menguasai orang-orang kafir, mereka tidak mungkin dapat menghindar dari-Nya.