Doa sholat malam (tahajud)

Doa-doa yang dipanjatkan Nabi ﷺ ketika bangun sholat malam.

1 Sekali

اللهم ربَّنا لك الحمدُ، أنت قَيِّمُ السموات والأرض، ولك الحمدُ أنت ربُّ السموات والأرض ومَن فيهنَّ، ولك الحمدُ أنت نورُ السموات والأرض ومن فيهنَّ، أنت الحقُّ، وقولُك الحقُّ، ووعدُك الحقُّ، ولقاؤك الحقُّ، والجنةُ حقٌّ، والنارُ حقٌّ، والساعةُ حقٌّ، اللهم لك أسلمتُ، وبك آمنتُ، وعليك توكَّلتُ، وإليك خاصمتُ، وبك حاكمتُ، فاغفر لي ما قدَّمتُ وما أخَّرتُ، وأسررتُ وأعلنتُ، وما أنت أعلم به مني، لا إلهَ إلا أنت

Arti dan sumber

Dari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila melaksanakan salat tahajud di malam hari, beliau membukanya dengan ucapan, “Ya Allah! Segala puji bagi Engkau. Engkau pemelihara langit dan bumi serta makhluk yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau memiliki kerajaan langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau adalah cahaya bagi langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau Raja langit dan bumi dan Raja bagi siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkaulah Al Haq. Janji-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, pertemuan dengan-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu membawa kebenaran, dan Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- itu membawa kebenaran, hari kiamat itu benar adanya. Ya Allah! Kepada-Mu lah aku berserah diri. Kepada-Mu lah aku beriman. Kepada-Mu lah aku bertawakal. Kepada-Mu aku mengajukan perkara. Dan kepada-Mu aku berhukum. Karena itu, ampunilah aku dari dosa yang telah lalu dan yang akan datang, apa yang aku lakukan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, dan apa yang Engkau lebih tahu dariku. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.”

Muttafaq 'alaih Derajat: Hadis sahih

Penjelasan

Apabila Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri untuk melaksanakan salat, maka setelah mengucapkan takbiratul ihram, beliau mengucapkan doa, "Ya Allah, Tuhan kami, segala puji milik-Mu," yakni, segala pujian wajib dan menjadi hak Allah Ta'ala. Dia terpuji dalam sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya, nikmat-Nya, kemurahan hati-Nya, penciptaan-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, perintah-Nya dan ketetapan-Nya. Dialah yang terpuji di awal dan di akhir, lahir dan batin.

Selanjutnya beliau mengucapkan, "Engkaulah yang menegakkan langit dan bumi." Yakni, Engkaulah yang menegakkannya dari ketiadaan, mengurus keduanya dengan hal-hal yang dapat memperindah dan menegakkannya. Engkaulah Pencipta dan Pemberi rezeki, Pemilik dan Pengatur, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan.

Selanjutnya beliau mengucapkan, "Segala puji hanya milik-Mu. Engkaulah Tuhan langit dan bumi dan makhluk yang ada di dalamnya." Yakni, Engkau Pemilik keduanya dan makhluk yang ada di dalamnya, yang mengatur keduanya dengan kehendak-Mu. Engkau yang mengadakan keduanya dari ketiadaan. Dengan demikian, kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada keterlibatan atau pengaturan seorang pun bersama-Mu. Engkau Maha Suci dan Engkau Maha Luhur.

Lalu mengucapkan, "Segala puji hanya milik-Mu. Engkaulah cahaya langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalam keduanya." Di antara sifat Allah ialah cahaya dan Dia tersembunyi dari makhluk-Nya dengan cahaya. Dia Penerang langit dan bumi, Pemberi petunjuk penghuni langit dan bumi, dan tidak boleh menafikan atau menakwilkan sifat cahaya dari Allah Ta'ala.

Lalu mengucapkan, "Engkaulah Al-Haq." Al-Haq adalah salah satu nama Allah dan salah satu sifat-Nya. Dia adalah Al-Haq dalam Zat dan sifat-Nya. Dia adalah wajib ada dengan segala sifat dan ciri. Keberadaan-Nya merupakan keharusan Zat-Nya. Tidak ada wujud sesuatu melainkan Dia yang mengadakannya.

Lalu mengucapkan, "Firman-Mu adalah benar," apa yang Engkau firmankan adalah benar, hak, dan adil tanpa tercampuri kebatilan dari depan-Nya, dari belakang-Nya, baik dalam kabar-Nya, hukum-Nya, dan syariat-Nya. Tidak juga pada janji dan ancaman-Nya.

Lalu mengucapkan, "janji-Mu adalah benar," yakni, Engkau tidak pernah ingkar janji. Apa yang Engkau janjikan pasti akan terjadi sesuai dengan yang telah Engkau janjikan. Tidak ada pergantian dan perubahan di dalamnya.

Lalu mengucapkan, "dan pertemuan-Mu adalah benar." Yakni, setiap hamba pasti berjumpa dengan-Nya, lalu mereka diberi balasan atas amal-amalnya. Perjumpaan ini tercakup di dalamnya melihat Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Lalu mengucapkan, "Surga itu benar, neraka itu benar," yakni, keduanya sudah ditetapkan dan ada sebagaimana engkau telah diberitahu mengenai hal itu bahwa keduanya sudah disiapkan bagi para penghuninya. Keduanya adalah perkampungan abadi dan kepadanya tempat kembali semua hamba.

Lalu mengucapkan, "dan kiamat itu benar." Yakni, terjadinya kiamat adalah sesuatu yang benar tanpa ada keraguan di dalamnya. Ia ditetapkan dan pasti terjadi. Kiamat adalah akhir dunia dan permulaan akhirat. Sabdanya, "Ya Allah, aku menyerahkan diri kepada-Mu," artinya aku tunduk kepada hukum-Mu, menyerahkan diri, dan rela.

Sabdanya, "beriman kepada-Mu," yakni, aku membenarkan-Mu dan apa yang Engkau turunkan, dan aku melakukan sebagaimana keharusannya.

"bertawakal kepada-Mu," yakni, aku bersandar kepada-Mu dan menyerahkan segala urusanku kepada-Mu.

"mengajukan perkara kepada-Mu," yakni, dengan berbagai bukti yang diberikan kepadaku, aku berhujjah kepada pembangkang dan mengalahkannya.

"dan mengajukan gugatan kepada-Mu." Yakni, setiap orang yang menolak untuk menerima kebenaran atau mengingkarinya, maka aku mengajukan gugatan kepada-Mu dan aku menjadikan-Mu sebagai penentu keputusan antara aku dengannya, guna menghindari keputusan thaghut berupa undang-undang konvensional atau dukun atau lainnya yang biasanya dijadikan rujukan oleh manusia, berupa hukum-hukum yang batil secara syariat.

Sabdanya, "Karena itu, ampunilah aku dari dosa yang telah lalu dan yang akan datang, apa yang aku lakukan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, dan apa yang Engkau lebih tahu dariku." Yakni, ampunilah aku dari dosa yang telah aku kerjakan dan yang akan aku kerjakan, dosa yang tampak pada seseorang dari makhluk-Mu dan apa yang tersembunyi dari mereka dan yang tidak diketahui oleh selain-Mu.

Selanjutnya beliau menutup doanya dengan ucapan, "Tidak ada tuhan yang benar selain Engkau." Aku tidak menghadap kecuali kepada-Mu, karena setiap yang dipertuhankan selain-Mu adalah batil dan dakwahnya adalah sesat dan binasa.

Inilah tauhid yang dibawa oleh para utusan Allah dan diwajibkan oleh Allah Ta'ala kepada para hamba-Nya.

Baca di HadeethEnc.com

2 Sekali

اللهمَّ ربَّ جِبرائيل، ومِيكائيل، وإسرافيل، فاطرَ السماوات والأرض، عالمَ الغيب والشهادة، أنت تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يختلفون، اهدني لما اختُلِف فيه من الحق بإذنك، إنَّك تهدي مَن تشاء إلى صراطٍ مستقيمٍ

Arti dan sumber

Dari Abu Salamah bin Abdirrahman bin Auf, ia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Aisyah, Ummul Mukminin -raḍiyallāhu 'anhā-, apa doa yang dibaca oleh Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam mengawali salat malamnya?" Aisyah menjawab, "Apabila beliau menegakkan salat malam, beliau membuka salatnya dengan doa, "Ya Allah! Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi, Zat Yang mengetahui perkara gaib dan tampak. Engkaulah yang menetapkan keputusan apa yang diperselisihkan di antara hamba-hamba-Mu. Tunjukkanlah aku kepada kebenaran yang diperselisihkan (manusia) dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus."

Diriwayatkan oleh Muslim Derajat: Hadis sahih

Penjelasan

Abu Salamah bin Abdirrahman bin Auf bertanya kepada Aisyah, Ummul Mukminin mengenai doa yang biasa diucapkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika memulai salat malam?" Aisyah menjawab, "Apabila Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menegakkan salat malam, beliau mengucapkan doa berikut, "Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil." Pengkhususan ketiga malaikat tersebut dengan penyandaran pada lafal jalālah, padahal Allah -Ta'ālā- Tuhan segala sesuatu, adalah untuk memuliakan mereka dan mengutamakannya dari malaikat yang lainnya. Seakan-akan beliau mendahulukan Jibril, karena dia penjaga kitab-kitab langit. Semua urusan-urusan agama kembali kepadanya. Beliau mengakhirkan Israfil karena dia adalah malaikat yang meniup sangkakala dan dengan itu terjadilah kiamat. Sedangkan yang ditengahnya adalah Mikail karena dia penjaga hujan, tumbuhan dan sebagainya yang berkaitan dengan rezeki yang menjadi bekal di dunia. "Pencipta langit dan bumi," yakni, pencipta dan desainer keduanya. "Yang mengetahui perkara gaib dan yang tampak." Yakni, mengetahui apa yang tidak terlihat oleh hamba-hamba dan apa yang mereka saksikan. "Engkaulah yang menetapkan keputusan apa yang diperselisihkan di antara hamba-hamba-Mu." Yakni, Engkau menetapkan keputusan di antara hamba-hamba mengenai urusan agama yang mereka perselisihkan di hari-hari dunia. "Tunjukanlah aku kepada kebenaran yang diperselisihkan (manusia) dengan izin-Mu." Yakni, tunjukanlah aku kepada yang hak dan kebenaran dalam perselisihan yang terjadi pada manusia mengenai berbagai urusan agama dan dunia dengan taufik -Mu dan kemudahan-Mu. "Sesungguhnya Engkau menunjukkan siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus." Yakni, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Kau kehendaki ke jalan yang hak dan benar.

Baca di HadeethEnc.com

3 Sekali

اللهم اجعل في قلبي نورا، وفي بَصري نورا، وفي سمعي نورا، وعن يميني نورا، وعن يساري نورا، وفَوْقِي نورا، وتحتي نورا، وأمامي نورا، وخلفي نورا، واجعل لي نورا

Arti dan sumber

Dari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Saya pernah menginap di rumah Maimunah. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menuntaskan hajatnya, lantas membasuh wajah dan kedua tangannya, lalu tidur. Kemudian bangun dan langsung menuju tempat kantong air dan membuka tali penutupnya. Kemudian beliau berwudu dengan wudu yang pertengahan, tidak berlebihan air namun sudah mencukupi, lalu salat. Aku pun bangun dan membentangkan badan karena khawatir beliau tahu kalau aku terus memerhatikannya. Lalu aku berwudu. Beliau bangkit untuk salat lagi dan aku langsung berdiri di sebelah kirinya. Beliau memegang telingaku dan memutarku ke samping kanan beliau, hingga sempurna salat beliau sebanyak tiga belas rakaat. Kemudian beliau berbaring, lalu tidur sampai mendengkur. Dan memang beliau jika tidur mendengkur. Dan Bilal pun memberitahukan kepada beliau untuk salat Subuh. Kemudian beliau salat tanpa berwudu lagi. Dan doa yang beliau ucapkan adalah, "Ya Allah! Jadikanlah dalam hatiku cahaya, dalam pandanganku cahaya, dalam pendengaranku cahaya. Di sebelah kananku cahaya, di sebelah kiriku cahaya, di atasku cahaya, di bawahku cahanya, di depanku cahaya, di belakangku cahaya dan jadikanlah untukku cahaya."

Muttafaq 'alaih Derajat: Hadis sahih

Penjelasan

Dalam hadis ini, Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- menceritakan bahwa dia pernah menginap di rumah bibinya, Maimunah -raḍiyallāhu 'anhā-, istri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menuntaskan hajatnya". Artinya, beliau buang air kecil atau berak. "Setelah itu membasuh wajah dan kedua tangannya lalu tidur." Usai buang hajat beliau mencuci muka supaya segar dan kedua tangannya supaya bersih. "Kemudian bangun dan langsung menuju tempat kantong air dan membuka tali penutupnya". Artinya, setelah bangun dari tidurnya beliau langsung menuju tempat kantong air dan melepaskan tali penutupnya -yang dipakai untuk menjaga air atau sesuatu di dalamnya-. "Kemudian beliau berwudu" seperti wudu untuk salat, (yaitu) wudu pertengahan, tidak sembarangan dan juga tidak berlebihan, tetapi di antara keduanya. Makanya dia mengatakan, "tidak berlebihan," artinya beliau mencukupkan dengan cara yang minimal, kurang dari tiga kali. Ini dibolehkan, meskipun sunahnya adalah tiga kali. "dan itu sudah mencukupi", yakni beliau menyempurnakan wudu dengan membasuh anggota wudu yang wajib dikenai air, dan ini merupakan ukuran yang wajib. "Lalu beliau salat", yaitu salat malam. "Aku pun bangun dan membentangkan badan. Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- menuturkan, bahwasanya dia memperhatikan apa yang dilakukan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu dia membentangkan badannya dan menampakkan seakan-akan dia tidak sedang mengawasi Nabi, agar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak merasa diawasi gerak geriknya. Oleh karena itulah dia berkata, “Dia tidak suka Nabi mengetahui bahwa dirinya mengawasi gerak-gerik beliau”. Artinya, Ibnu Abbas melihat dengan sembunyi-sembunyi dan mengawasi gerak gerik beliau. Inilah penyebab dia membentangkan badannya, dan dia berpura-pura membentangkannya. Hal ini dilakukan karena biasanya tuan rumah tidak ingin orang yang bermalam di rumahnya melihat gerak geriknya. Atau Ibnu Abbas khawatir kalau Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meninggalkan amalannya karena dia diawasi, mengingat kebiasaan beliau adalah meninggalkan sebagian amalan dengan pertimbangan takut diwajibkan kepada umatnya. Oleh karena itu, dia berpura-pura demikian sambil memperhatikan detail perbuatan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dari sejak bagun tidur sampai azan Subuh dikumandangkan. Ini menunjukkan keseriusan Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- dalam menggali ilmu dari sumber aslinya. Dia menuturkan, "Lalu aku berwudu." Dalam riwayat lain disebutkan, "Lalu aku berwudu seperti wudu beliau.” Dalam riwayat Bukhari disebutkan, “Lalu aku bangun dan melakukan seperti yang dilakukan oleh Nabi". “Beliau bangkit untuk salat dan aku langsung berdiri di sebelah kirinya." Artinya, ketika dia melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukan salat malam, maka dia langsung berwudu dan bermakmum kepada Rasulullah, hanya saja ia berdiri di sebelah kiri beliau. "Maka beliau memegang telingaku dan memutarku ke samping kanan beliau". Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Maka beliau meletakkan tangan kanannya di kepalaku, lalu memegang telinga kananku dan memelintirnya." Beliau meletakkan tangannya ke kepala terlebih dahulu agar bisa memegang telinga Ibnu Abbas, atau memang karena kepala itulah yang terpegang oleh beliau, atau agar berkah tangan beliau mengalir dalam diri Ibnu Abbas supaya mengerti semua perbuatan beliau pada saat itu. Dia menuturkan, "dan memelintirnya", tujuannya adalah untuk mengingatkannya bahwa yang dilakukan itu tidak sesuai sunah, atau agar semakin perhatian untuk mengingat tindakan tersebut, atau agar tidak mengantuk, atau agar bisa memutar Ibnu Abbas dari kiri ke kanan, atau agar tidak takut karena saat itu kondisinya sangat gelap, sebagaimana dinyatakan sendiri oleh Ibnu Abbas dalam riwayat Bukhari. Atau untuk membangunkannya, atau untuk menunjukkan rasa sayang beliau karena memang Ibnu Abbas masih sangat kecil." "Beliau memutarku ke samping kanan beliau.” Yakni, beliau memutarnya dari samping kiri ke samping kanan. Itulah posisi makmum dari imam saat makmum hanya sendiri. "Hingga sempurna salat beliau sebanyak tiga belas rakaat." Artinya, malam itu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- salat sebanyak tiga belas rakaat dengan komposisi setiap dua rakaat salam dan ditutup satu rakaat salat witir. Hal ini senada dengan riwayat imam Bukhari, "Beliau salam setiap dua rakaat." Dan dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan lebih detail, "Kemudian beliau salat dua rakaat, dua rakaat lagi, dua rakaat lagi, dua rakaat lagi, dua rakaat lagi, dua rakaat lagi, lalu witir." Artinya, beliau salat witir satu rakaat yang terpisah dari dua rakaat sebelumnya, karena jika beliau salat dua rakaat enam kali maka jumlahnya adalah dua belas rakaat tanpa witir. Sementara keseluruhan salat beliau adalah tiga belas rakaat, maka kurang satu rakaat yaitu witir. "Kemudian beliau berbaring, lalu tidur sampai mendengkur." Artinya beliau bernafas dengan suara yang bisa didengar seperti suara tiupan. "Dan memang beliau jika tidur mendengkur." Dan Bilal memberitahu beliau untuk salat" yaitu memberitahukan waktu salat Subuh. “Lantas beliau salat”, yaitu salat sunah fajar terlebih dahulu. Kemudian beliau keluar rumah menuju masjid lalu salat Subuh berjamaah. “Beliau tidak berwudu lagi (untuk salat Subuh)”, tetapi mencukupkan dengan wudu sebelumnya, karena ini termasuk keistimewaan beliau, bahwa tidur beliau tidak membatalkan wudunya, karena kedua mata beliau boleh tidur tetapi hati beliau senantiasa terjaga. Jikapun ada hadas yang keluar pasti beliau merasakannya. Ini berbeda dengan selain beliau. Oleh karena itu, ketika Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bertanya, "Apakah engkau tidur sebelum salat witir?". Beliau menjawab, "Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak tidur." Dan doa yang beliau ucapkan adalah, "Ya Allah jadikanlah dalam hatiku cahaya, dalam penglihatanku cahaya, dalam pendengaranku cahaya, di sebelah kananku cahaya, di sebelah kiriku cahaya, di atasku cahaya, di bawahku cahanya, di depanku cahaya, di belakangku cahaya, dan jadikanlah untukku cahaya." Beliau meminta cahaya pada anggota tubuhnya dan seluruh penjuru mata anginnya, maksudnya adalah menjelaskan kebenaran dan pancaran cahaya serta hidayah kepada kebenaran tersebut. Maka beliau meminta cahaya di semua anggota tubuhnya dan segala tindak tanduknya, gerak geriknya dan seluruh perbuatannya serta seluruh arah mata angin yang enam agar tidak ada yang melenceng dari kebenaran tersebut.

Baca di HadeethEnc.com

Lebih banyak dari Sunnah tentang ini

4

Arti dan sumber

Abu Umāmah meriwayatkan, Aku diberitahu oleh 'Amr bin 'Abasah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ia telah mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Waktu paling dekat antara Allah dengan hamba ialah di pertengahan malam yang terakhir. Jika engkau bisa termasuk orang yang mengingat Allah pada waktu itu, lakukanlah."

HR. Abu Daud, Tirmizi, dan Nasai Derajat: Sahih

Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah ﷻ berada paling dekat dengan hamba ketika di sepertiga akhir malam. Wahai orang beriman, jika engkau dimudahkan serta mampu untuk menjadi orang yang beribadah, mengerjakan salat, zikir dan tobat di waktu itu, maka hal itu hendaknya diupayakan serta dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Faedah

  • 1- Motivasi bagi seorang muslim agar berzikir di akhir malam.
  • 2- Perbedaan keutamaan antarwaktu untuk berzikir, berdoa, dan salat.
  • 3- 3- Mīrak menjelaskan tentang perbedaan antara sabda beliau, “Aqrabu mā yakūnu ar-Rabbu mina al-‘abdi fī jawfi al-laili al-ākhir” (waktu paling dekat antara Allah dengan hamba ialah di pertengahan malam yang terakhir) dengan sabda beliau, “Aqrabu mā yakūnu al-‘abdu min rabbihi wa-huwa sājid” (waktu paling dekat antara hamba dengan Tuhannya ialah saat ia sujud) bahwa yang dimaksudkan dalam hadis ini ialah menjelaskan waktu Allah paling dekat dengan hamba, yaitu di pertengahan malam, sedangkan yang dimaksudkan dalam hadis tersebut ialah menjelaskan keadaan paling dekat hamba dengan Allah, yaitu ketika ia sujud.

Baca di HadeethEnc.com

5

Arti dan sumber

Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Sesungguhnya pada malam hari itu ada satu waktu yang tidaklah seorang muslim tepat pada waktu itu meminta kepada Allah kebaikan perkara dunia dan akhirat, melainkan Allah pasti memberikannya kepadanya. Dan waktu itu ada pada setiap malam'."

Diriwayatkan oleh Muslim Derajat: Hadis sahih

Penjelasan

Di setiap malam ada satu waktu dikabulkannya doa. Tidaklah seorang hamba muslim tepat pada waktu itu berdoa dengan sesuatu yang tidak diharamkan, kecuali Allah pasti mengabulkan doanya."

Baca di HadeethEnc.com

Pertanyaan

Apa isi halaman ini?

Doa tahajud: masing-masing dalam bahasa Arab, dengan artinya, hadis sumbernya, derajatnya dan penjelasannya.

Dari mana terjemahannya?

Dari HadeethEnc.com, Ensiklopedia Hadis Nabi Terjemahan. Setiap hadis ditampilkan persis seperti yang mereka terbitkan, dengan sumber dan derajatnya, serta tautan ke aslinya.

Bisakah saya mendapat pengingat harian?

Bisa. Aplikasi Qabas gratis untuk Android mengingatkan Anda dzikir pagi dan petang setiap hari dan memiliki penghitung yang sama.