Surat Al-Ahqaf ayat 10

46:10

قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كَانَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَكَفَرۡتُم بِهِۦ وَشَهِدَ شَاهِدٞ مِّنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ مِثۡلِهِۦ فَـَٔامَنَ وَٱسۡتَكۡبَرۡتُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ١٠

Qul ara'aytum in kāna min 'indillāhi wakafartum bihī wasyahida syāhidum mim banī isrā'īla 'alā mitslihī fa'āmana wastakbartum innallāha lā yahdil-qawmaz-zālimīn

Katakanlah, "Terangkan kepadaku, bagaimana pendapatmu jika sebenarnya (Al-Qur`an) ini datang dari Allah, dan kamu mengingkarinya, padahal ada seorang saksi dari Bani Israil802 yang mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur`an lalu dia beriman; kamu menyombongkan diri. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

Catatan kaki

802 Yang dimaksud dengan "seorang dari Bani Israil" ialah Abdullah bin Salam. Dia menyatakan keimanannya kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- setelah memperhatikan bahwa di antara isi Al-Qur`an ada yang sesuai dengan Taurat, seperti ajaran tauhid, janji dan ancaman, kerasulan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, adanya kehidupan akhirat, dan sebagainya.

Tafsir

Katakanlah -wahai Rasul- kepada orang-orang yang mendustakanmu itu, “Beritahukan kepadaku jika Al-Qur`ān ini dari sisi Allah dan kalian mengingkarinya namun seseorang dari Bani Israil telah bersaksi bahwa Al-Qur`ān ini dari sisi Allah berdasarkan apa yang disebutkan di dalam Kitab Taurat tentangnya kemudian dia mengimaninya sementara kalian menyombongkan diri dari mengimaninya, bukankah berarti kalian saat itu adalah orang-orang yang zalim?! Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan taufik bagi orang-orang yang zalim untuk mendapatkan kebenaran.”