فَقَالُواْ رَبَّنَا بَٰعِدۡ بَيۡنَ أَسۡفَارِنَا وَظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ فَجَعَلۡنَٰهُمۡ أَحَادِيثَ وَمَزَّقۡنَٰهُمۡ كُلَّ مُمَزَّقٍۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ ١٩
Faqālū rabbanā bā'id bayna asfārinā wazalamū anfusahum faja'alnāhum ahādītsa wamazzaqnāhum kulla mumazzaqin inna fī dzālika la'āyātil likulli sabbārin syakūr
Maka mereka berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami,"697 dan (berarti mereka) menzalimi diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka bahan pembicaraan dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.
Catatan kaki
697 Agar kota-kota yang berdekatan itu dihapuskan, agar perjalanan menjadi panjang dan mereka dapat melakukan monopoli dalam perdagangan itu, sehingga keuntungan lebih besar.
Tafsir
Namun, mereka malah menyombongkan diri dengan nikmat Allah yang telah mendekatkan jarak perjalanan mereka. Mereka berkata, “Wahai Tuhan kami! Jauhkanlah jarak perjalanan kami dengan menghilangkan negeri-negeri itu, agar kami merasakan beban lelah perjalanan dan keistimewaan tunggangan kami tampak jelas." Sungguh, mereka telah menzalimi diri mereka dengan menyombongkan diri atas nikmat Allah, berpaling dari kewajiban syukur, dan hasad mereka kepada orang-orang miskin dari mereka. Oleh karena itu, Kami menjadikan mereka bahan cerita di kalangan orang-orang sesudah mereka, Kami mencerai-beraikan mereka di beberapa negeri, sehingga sebagian dari mereka tidak bisa berhubungan dengan yang lain. Sesungguhnya dalam cerita yang disebutkan di atas, yaitu nikmat Allah kepada penduduk Saba` dan hukuman terhadap mereka akibat kekufuran dan kesombongan mereka terdapat pelajaran bagi setiap orang yang sangat bersabar di atas ketaatan kepada Allah, dari kemaksiatan kepada-Nya, serta atas ujian-Nya, lagi pandai bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya.