Doa naik kendaraan atau tunggangan

Doa yang dibaca saat naik mobil, pesawat, kereta atau hewan tunggangan.

1 Sekali

بسم الله
الحمد لله الذي سخر لنا هذا وما كنا له مُقْرِنين، وإنا إلى ربنا لمنقلبون
الْحَمْدُ لِلَّهِ (٣)
اللَّهُ أَكْبَرُ (٣)
سبحانك إني ظلمت نفسي فاغفر لي إنه لا يغفر الذنوب إلا أنت

Arti dan sumber

Dari Ali bin Rabī'ah, ia berkata, "Aku menyaksikan Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- dibawakan seekor hewan tunggangan untuk ditungganginya. Ketika ia meletakan satu kakinya pada sanggurdi, ia mengucapkan, "Bismillāh (Dengan nama Allah)." Lantas ketika berada di atas punggungnya, ia mengucapkan, "Segala puji bagi Allah yang telah menundukkan ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak bisa menguasainya, dan hanya kepada-Mu kami kembali." Kemudian ia mengucapkan, "Alḥamdulillāh (Segala puji bagi Allah) sebanyak tiga kali," lalu mengucapkan, "Allāhu Akbar (Allah Mahabesar) sebanyak tiga kali," kemudian mengucapkan, "Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku, karena tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau." Lantas ia tertawa. Kemudian ia ditanya, "Wahai Amirul Mukminin, kenapa engkau tertawa?" Ia menjawab, "Aku pernah melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukan seperti apa yang aku lakukan ini, kemudian beliau tertawa, maka aku bertanya, "Wahai Rasulullah, kenapa engkau tertawa?" Beliau bersabda, "Sesungguhnya Rabbmu yang Mahatinggi, merasa takjub terhadap hamba-Nya ketika ia mengatakan, "Ampunilah dosa-dosaku." Ia tahu bahwa tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Aku."

Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad Derajat: Hadis sahih

Penjelasan

Dari Ali bin Rabī'ah, ia termasuk pembesar tabi'in. Ia berkata, "Aku menyaksikan," yakni, aku hadir bersama Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu-, lalu ia dibawakan seekor binatang tunggangan," Ad-Dābbah secara bahasa adalah sesuatu yang melata di atas bumi, lalu tradisi mengkhususkannya pada hewan berkaki empat. "untuk ditungganginya. Ketika ia meletakkan satu kakinya pada sanggurdi, ia mengucapkan, "Bismillāh (Dengan nama Allah)." yakni, aku menunggangi, "Lantas ketika berada di atas punggungnya, ia mengucapkan, "Alḥamdulillāh (Segala puji bagi Allah)" yakni, atas kenikmatan yang besar ini. Yaitu menundukkan binatang liar dan menjadikannya patuh kepada kita untuk ditunggangi dalam keadaan terpelihara dari keburukannya, sebagaimana hal ini dijelaskan dalam sabdanya, "Allażī sakhkhara lana hāża (yang telah menundukkan ini)" yakni, menundukkan, "bagi kami," yakni untuk kita tunggangi, "padahal sebelumnya kami tidak bisa," yakni menguasainya, "menguasainya," yakni mampu, "dan hanya kepada-Mu kami kembali." Kemudian ia mengucapkan," yakni setelah pujian-Nya yang diikat dengan sanjungan terhadap apa yang telah dianugerahkan kepadanya, "Alḥamdulillāh (Segala puji bagi Allah sebanyak tiga kali)" pujian yang tidak terikat dengan sesuatu," Dalam pengulangan ini menunjukkan keagungan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dan sesungguhnya seorang hamba tidak akan bisa mengukur kekuasaan Allah dengan sebenarnya dan ia diperintahkan untuk terus-menerus dalam ketaatan kepada-Nya sesuai kemampuannya. "lalu mengucapkan, "Allahu Akbar (Allah Mahabesar, sebanyak tiga kali)," Pengulangan ini untuk menunjukkan Mubālagah (berlebih-lebihan) dalam hal itu, "kemudian mengucapkan, "Subḥānaka (Mahasuci Engkau)" yakni, Aku mensucikan diri-Mu dengan penyucian mutlak, "sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri," dengan tidak melaksanakan hak-Mu karena ada kekurangan dalam mensyukuri kenikmatan agung tersebut meskipun dengan kelalaian atau angan-angan atau pandangannya, "maka ampunilah aku," yakni, tutupilah dosa-dosaku dengan tidak menjatuhkan siksaan terhadapnya, "karena tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau." Ini mengandung isyarat pengakuan terhadap ketidakmampuan bersyukur padahal Allah memberikan anugerah kepadanya dan memperbanyaknya. "Lantas ia tertawa. Kemudian ia ditanya," Ia bertanya, yakni Ibnu Rabi'ah. Dalam naskah yang sudah disahihkan dari Asy-Syamāil, "Aku berkata, "Wahai Amirul Mukminin, kenapa engkau tertawa?" karena tidak ada sesuatu yang menakjubkan darinya yang dapat menimbulkan tawa. Ia bertanya kepadanya mengenai sebab tertawa dan ia mendahulukan seruannya daripada pertanyaannya sebagaimana bentuk tatakrama dalam berbicara, "Ia menjawab, "Aku pernah melihat," yakni, aku pernah melihat, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukan seperti yang aku lakukan ini," yaitu menunggangi binatang tunggangan dan zikir pada posisi-posisinya, "kemudian beliau tertawa, maka aku bertanya, "Wahai Rasulullah, kenapa engkau tertawa?" Beliau bersabda, "Sesungguhnya Rabbmu yang Maha tinggi merasa takjub," Saat Ali -raḍiyallāhu 'anhu- teringat hal itu maka hal itu mengharuskannya untuk bertambah mensyukuri-Nya, lalu ia mendapatkan kabar gembira dan tertawa. Tertawanya ini bukan sekadar ikut-ikutan, karena hal itu bukan pilihan, meskipun ia bisa saja memaksakannya, "terhadap hamba-Nya," penyandaran untuk penghormatan, "ketika ia mengatakan, "Ampunilah dosa-dosaku." Ia mengetahui," yakni, ia mengucapkan itu dalam keadaan mengetahui bukan dalam keadaan lalai, "bahwa tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Aku."

Baca di HadeethEnc.com

2 Sekali

سبحان الذي سخَّر لنا هذا وما كُنَّا له مُقْرِنِينَ وإنَّا إلى ربِّنا لـمُنْقَلِبُون، اللهم إنَّا نَسْأَلُك في سفرنا هذا البِرَّ والتَّقْوَى، ومن العمل ما تَرْضَى، اللهم هَوِّنْ علينا سفرنا هذا واطْوِ عنا بُعْدَه، اللهم أنت الصاحب في السفر، والخليفة في الأهل، اللهم إني أعوذ بك مِن وَعْثَاء السفر، وكآبة الـمَنْظر، وسوء الـمُنْقَلَب في المال والأهل والولد

Arti dan sumber

Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- bila berada di atas kendaraan dengan tujuan akan bepergian maka beliau bertakbir tiga kali, kemudian membaca, “Subḥānallażī sakhkhara lanā hāżā wa mā kunnā lahū muqrinīna, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn. Allāhumma innā nas-aluka fī safarinā hāżā al-birra wattaqwā, wa minal 'amali mā tarḍā. Allāhumma hawwin 'alainā safaranā hāżā wa iṭwī 'annā bu'dahū. Allāhumma antaṣ-ṣāḥibu fis-safar, wal-khalīfatu fil-ahli. Allāhumma innī a'ūżu bika min wa'ṡā-issafar, wa ka-ābatil-manẓar, wa sū-il-munqalabi fil-māli wal-ahli wal-walad (artinya: Mahasuci Allah yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedang sebelumnya kami tidak mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari Kiamat). Ya Allah! Sesungguhnya kami memohon kebaikan dan taqwa dalam bepergian ini, kami mohon perbuatan yang meridakan-Mu. Ya Allah! Permudahlah perjalanan kami ini, dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya Allah! Engkaulah teman dalam bepergian dan yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan perubahan yang jelek dalam harta, keluarga dan anak)." Ketika beliau pulang maka beliau membaca doa di atas dan menambahi, “āyibūna tāibūna 'ābidūn, li rabbinā ḥāmidūn (artinya: Kami kembali kepada Allah, bertobat kepada-Nya, beribadah kepada-Nya dan kepada Allah kami memuji).”

Dalam riwayat lainnya dinyatakan, “Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- pulang dari haji dan umrah dan berada di daerah Ṡaniyyah (tanjakan) atau Fadfad maka beliau bertakbir tiga kali. Kemudian membaca, “Lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lahū, lahul-mulku walahul-ḥamdu wa huwa 'alā kulli syaiin qadīr, āyibūna tāibūna 'ābidūn, sājidūn, li rabbinā ḥāmidūn, ṣadaqallāhu wa'dahū wa naṣara 'abdahū wa hazamal-aḥzāba waḥdah (artinya: Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kekuasaan dan bagi-Nya pula segala pujian. Dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Kami kembali kepada Allah, bertobat kepada-Nya, beribadah kepada-Nya, bersujud kepada-Nya, dan kepada Allah kami memuji. Allah benar dalam janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan golongan musuh dengan sendiri-Nya.”

Dalam lafal lain disebutkan, “Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- pulang dari peperangan, haji atau umrah.”

Diriwayatkan oleh Muslim Derajat: Hadis sahih

Penjelasan

Dalam hadis ini, Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- menjelaskan bahwa bila Nabi -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- berada di atas untanya dengan tujuan hendak bepergian maka beliau bertakbir tiga kali. Kemudian membaca doa agung ini yang memuat makna-makna mulia, yaitu: menyucikan Allah-'Azzā wa Jallā- dari segala kebutuhan dan kekurangan; menghadirkan perasaan besarnya nikmat Allah atas hamba-Nya; juga berlepas diri dari segala kemampuan dan kekuatan (selain-Nya); kembali kepada-Nya; lalu memohon kebaikan, keutamaan, takwa dan pertolongan untuk melakukan amal kebajikan. Di dalamnya juga mengandung makna tawakal dan berserah diri secara total kepada Allah -Ta’ālā-. Dalam doa itu juga ada permintaan perlindungan diri dan keluarga, dan agar diringankan-Nya perjalanan serta dijauhkan dari mara bahaya seperti musibah yang akan menimpa keluarga, harta, atau anak sekembalinya dari perjalanan.

Dalam riwayat yang lain Ibnu Umar menyebtulkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- ketika pulang dari bepergian maka beliau membaca doa ini dan menambahkan, “Kami (para rombongan) kembali pulang, bertobat (dari segala dosa), selalu beribadah dan kepada Allah kami memuji (bersyukur atas keselamatan kami).” Saat melewati tanjakan beliau bertakbir, sehingga beliau pun merasakan rendah diri di hadapan keagungan Allah -'Azzā wa Jallā-, lalu beliau mengucapkan, "Lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lahū..." sebagai bentuk pengakuan bahwa Dia Maha Esa dari segi ulūhiyyah, rubūbiyah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan bahwasanya Dia juga adalah Maha Penolong para wali dan bala tentara-Nya (yang menolong agama-Nya).

Baca di HadeethEnc.com

Pertanyaan

Apa isi halaman ini?

Doa naik kendaraan: masing-masing dalam bahasa Arab, dengan artinya, hadis sumbernya, derajatnya dan penjelasannya.

Dari mana terjemahannya?

Dari HadeethEnc.com, Ensiklopedia Hadis Nabi Terjemahan. Setiap hadis ditampilkan persis seperti yang mereka terbitkan, dengan sumber dan derajatnya, serta tautan ke aslinya.

Bisakah saya mendapat pengingat harian?

Bisa. Aplikasi Qabas gratis untuk Android mengingatkan Anda dzikir pagi dan petang setiap hari dan memiliki penghitung yang sama.