۞ وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِيٓۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٥٣
Wamā ubarri'u nafsī innan-nafsa la ammāratu bis-sū'i illā mā rahima rabbī inna rabbī ghafūrur rahīm
Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Tafsir
Istri al-'Azīz melanjutkan pembicaraannya dengan mengatakan, "Aku tidak merasa bahwa diriku bersih dari keinginan untuk berbuat buruk. Dengan pernyataan ini aku tidak bermaksud menyucikan diriku sendiri karena watak nafsu manusia ialah gemar menyuruh berbuat buruk lantaran ia selalu cenderung untuk mengikuti apa yang disukainya dan sulit dicegah, kecuali nafsu-nafsu yang dirahmati oleh Allah, Dia pasti melindunginya dari kebiasaan menyuruh berbuat buruk. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya yang bertobat."