۞ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا عَبۡدٗا مَّمۡلُوكٗا لَّا يَقۡدِرُ عَلَىٰ شَيۡءٖ وَمَن رَّزَقۡنَٰهُ مِنَّا رِزۡقًا حَسَنٗا فَهُوَ يُنفِقُ مِنۡهُ سِرّٗا وَجَهۡرًاۖ هَلۡ يَسۡتَوُۥنَۚ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِۚ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٧٥
Daraballāhu matsalan 'abdam mamlūkal lā yaqdiru 'alā syay'in wamar razaqnāhu minnā rizqan hasanan fahuwa yunfiqu minhu sirran wajahran hal yastawūnal-hamdu lillāhi bal aktsaruhum lā ya'lamūn
Allah membuat perumpamaan seorang hamba sahaya di bawah kekuasaan orang lain, yang tak berdaya untuk berbuat sesuatu dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik, lalu dia menginfakkan sebagian rezeki itu secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan. Samakah mereka itu? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.458
Catatan kaki
458 Maksud dari perumpamaan ini ialah untuk membantah orang musyrik yang menyamakan Allah yang memberi rezeki dengan berhala-berhala yang tidak berdaya.
Tafsir
Allah membuat perumpamaan untuk membantah orang-orang musyrikin, yaitu: ada seorang hamba sahaya yang tidak mampu bertindak, tidak memiliki apa pun untuk menghidupi dirinya sendiri dan ada seorang laki-laki merdeka yang Kami beri harta halal yang banyak, dia menggunakan harta tersebut sesuai dengan kehendaknya dan memberikan apa yang dia kehendaki secara rahasia dan terbuka. Kedua orang ini tentu tidak sama. Lalu bagaimana bisa kalian menyamakan antara Allah, Sang Penguasa yang bertindak terhadap apa yang Dia miliki sekehendak-Nya dengan berhala-berhala kalian yang tidak memiliki kuasa apa pun?! Pujian hanya bagi Allah yang memang berhak untuk dipuji, akan tetapi kebanyakan orang-orang musyrikin tidak mengetahui keesaan Allah dalam ulūhiyyah (hak dituhankan) dan bahwa Dialah yang berhak untuk disembah semata.