قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ مَا كَانَ يَنۢبَغِي لَنَآ أَن نَّتَّخِذَ مِن دُونِكَ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ وَلَٰكِن مَّتَّعۡتَهُمۡ وَءَابَآءَهُمۡ حَتَّىٰ نَسُواْ ٱلذِّكۡرَ وَكَانُواْ قَوۡمَۢا بُورٗا ١٨
Qālū subhānaka mā kāna yambaghī lanā an nattakhidza min dūnika min awliyā'a walākim matta'tahum wa ābā'ahum hattā nasudz-dzikra wakānū qawmā būrā
Mereka (yang disembah itu) menjawab, "Mahasuci Engkau, tidaklah pantas bagi kami mengambil pelindung selain Engkau,573 tetapi Engkau telah memberi mereka dan nenek moyang mereka kenikmatan hidup, sehingga mereka melupakan peringatan; dan mereka kaum yang binasa."
Catatan kaki
573 Setelah mereka dikumpulkan bersama-sama dengan apa yang mereka sembah, yaitu malaikat, Uzair, Nabi Isa -'alaihissalām- dan berhala-berhala, dan setelah Allah menanyakan kepada yang disembah itu, apakah mereka yang menyesatkan orang-orang itu ataukah orang-orang itu yang sesat sendiri, maka yang di sembah itu menjawab bahwa tidaklah pantas bagi mereka untuk menyembah selain Allah, apalagi menyuruh orang lain menyembah selain Allah.
Tafsir
Mereka yang disembah itu menjawab, "Mahasuci Engkau, wahai Tuhan kami! Tidaklah patut bagi-Mu memiliki sekutu dan tidak patut bagi kami untuk mengambil pelindung-pelindung selain Engkau, lalu bagaimana bisa kami memerintahkan hamba-hamba-Mu untuk menyembah kami atau selain-Mu? Akan tetapi, Engkau telah memberi orang-orang musyrik itu dan nenek moyang mereka sebelumnya kenikmatan hidup dunia, sebagai bentuk istidraj (penangguhan agar mereka terus tenggelam dalam nikmat yang menyebabkan bertambahnya dosa dan azab mereka) sampai mereka lupa mengingat-Mu, sehingga mereka pun menyembah selain-Mu dan kemudian mereka menjadi kaum yang binasa lantaran kedurhakaan mereka."