يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِيِّ لَسۡتُنَّ كَأَحَدٖ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ إِنِ ٱتَّقَيۡتُنَّۚ فَلَا تَخۡضَعۡنَ بِٱلۡقَوۡلِ فَيَطۡمَعَ ٱلَّذِي فِي قَلۡبِهِۦ مَرَضٞ وَقُلۡنَ قَوۡلٗا مَّعۡرُوفٗا ٣٢
Yānisā'an-nabiyyi lastunna ka ahadim minan-nisā'i init-taqaytunna falā takhda'na bil-qawli fayatma'al-ladzī fī qalbihī maradun waqulna qawlam ma'rūfā
Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara)677 dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya,678 dan ucapkanlah perkataan yang baik,
Catatan kaki
677 Berbicara dengan sikap yang menimbulkan orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka.
678 Orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan perempuan seperti melakukan zina.
Tafsir
Wahai istri-istri Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-! Kalian tidaklah seperti wanita-wanita lain dalam hal keutamaan dan kemuliaan, akan tetapi dalam hal keutamaan dan kemuliaan ini kalian berada pada tingkat yang tidak bisa dicapai oleh wanita selain kalian, apabila kalian menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Oleh sebab itu, janganlah kalian melembutkan ucapan dan merendahkan suara saat kalian sedang berbicara dengan orang-orang asing dari kalangan lelaki, sehingga orang-orang yang di dalam hati mereka terdapat penyakit nifak dan syahwat yang haram menjadi bangkit karena hal itu. Akan tetapi, ucapkanlah ucapan yang jauh dari keraguan, yaitu dengan menjadikan ucapan tersebut serius, tidak ada main-main, dan sekadar yang diperlukan saja.