وَكَيۡفَ أَخَافُ مَآ أَشۡرَكۡتُمۡ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمۡ أَشۡرَكۡتُم بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗاۚ فَأَيُّ ٱلۡفَرِيقَيۡنِ أَحَقُّ بِٱلۡأَمۡنِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٨١
Wakayfa akhāfu mā asyraktum walā takhāfūna annakum asyraktum billāhi mā lam yunazzil bihī 'alaykum sultānan fa ayyul-farīqayni ahaqqu bil-amni in kuntum ta'lamūn
Bagaimana aku takut kepada apa yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut dengan apa yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Manakah dari kedua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?"317
Catatan kaki
317 Setelah diperlihatkan Allah kepada Nabi Ibrahim -'alaihissalām- tanda-tanda keagungan-Nya dan dengan itu teguhlah imannya kepada Allah (ayat 75), maka Nabi Ibrahim -'alaihissalām- mengajak kaumnya kepada tauhid dengan mengikuti alam pikiran mereka.
Tafsir
Bagaimana mungkin aku merasa takut kepada berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah, sedangkan kalian tidak merasa takut ketika kalian menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya tanpa sedikitpun dalil yang mendukung tindakan itu? Golongan manakah -di antara golongan yang mengesakan Allah dan golongan yang menyekutukan Allah- yang lebih pantas mendapatkan keselamatan? Jika kalian mengetahui golongan mana yang lebih pantas mendapatkannya, maka ikutilah golongan itu. Tidak diragukan lagi bahwa golongan yang lebih pantas mendapatkan keselamatan itu ialah golongan orang-orang mukmin yang mengesakan Allah.”